Assalamu Alaikum Wr.Wb. dan Salam Sejahtera....Selamat Datang di LM3 Model GMIM NAFIRI Manado dan P4S PELANGI Manado, Sulawesi Utara....Solusi Indonesia Hijau ..... Hijaukan Indonesia dengan Pertanian Terpadu Bebas Sampah .... Indonesia Integrated Farming Zero Waste...STOP GLOBAL WARMING

Info dari Situs LEKADnews Jakarta

LEKAD SEBAGAI LEMBAGA YANG TELAH BERPENGALAMAN DALAM KAJIAN, FASILITASI, PUBLIKASI DAN PELATIHAN DIBIDANG KERJASAMA DAERAH SEJAK 2005 MENAWARKAN PELATIHAN PEDOMAN DASAR PERENCANAAN DAN PENGEMBANGAN KERJASAMA ANTAR DAERAH KEWILAYAHAN. PELATIHAN INI AKAN DISELENGGARAKANA PADA: HARI RABU S/D JUMAT 27-29 APRIL 2011, BERTEMPAT DI GRAHA WISATA KUNINGAN, JL. H.R RASUNA SAID KUNINGAN, JAKARTA_ INFO SILAKAN KONTAK WILDA (081314246402) ATAU H.ASRUL HOESEIN (085215497331) TERIMA KASIH.

Sabtu, 02 April 2011

Program Operasional Pertanian Organik Indonesia (9)

Matriks Keterlibatan Instansi/Dinas terkait_dok.Rul
Program operasional pengembangan pertanian  organik diarahkan dalam rangka pencapaian tujuan dan sasaran yang ditetapkan sebagaimana tertera pada Bab IV. Tujuan, Sasaran dan
Strategi Pengembangan dalam dokumen ini.
Iwan Lagi Mengawinkan Vanyla_Bone,Sulsel_dok.Rul



Program operasional tahunan disusun oleh masing-masing Direktorat Jenderal bersangkutan sesuai komoditas dan tugas fungsi masing-masing, meliputi:

Kebijakan Operasional Pertanian Organik (8)

Proses Sertifikasi_dok.Rul
Sesuai strategi pengembangan seperti tersebut di atas, langkah-langkah kebijakan operasional pengembangan pertanian organik 2008-2015 adalah sebagai berikut:

6.1.  Penyusunan Regulasi, Standar dan Pedoman.

Kebijakan penyusunan regulasi, standar dan pedoman mengenai pertanian organik ditujukan untuk mendorong berkembangnya usaha pertanian organik yang baik dan benar serta mampu meningkatkan kesejahteraan para pelakunya di Indonesia. 

Pengembangan regulasi dan pedoman mengenai pertanian organik meliputi:
1)  Regulasi, standar dan pedoman umum :
      Pedoman Sertifikasi Produk Pangan Organik
      Pedoman Inspeksi Produk Pangan Organik
      Pedoman Verifikasi Lembaga Sertifikasi Pangan Organik
      Pedoman Penerapan Jaminan Mutu Budidaya Ternak Organik dan Hasil Produk Ternak Organik 
      Pedoman Penerapan Jaminan Mutu Tanaman dan Produk Tanaman Organik 
      Pedoman Penerapan Jaminan Mutu Budidaya Lebah Organik 
      Pedoman Penerapan Jaminan Mutu Pengolahan Pangan Organik
      Pedoman Registrasi Lembaga Sertifikasi Asing Pangan
Jagung Organik_dok.Rul

Organik Asing Yang Beroperasi di Wilayah Indonesia
      Pedoman Permohonan Rekomendasi Jaminan Integritas Produk Pangan Organik
      Standar Nasional Indonesia Sistem Pangan Organik
      Pedoman Umum Pertanian Organik
      Pedoman Penyusunan GAP Organik
      Pedoman Penyusunan GHP dan GMP Organik
      Sistem Pengakuan Produk Organik
      Sistem Pengawasan Produk Organik
      Pedoman pengembangan SDM untuk pengembangan pertanian organik
      Otoritas Kompeten Pangan Organik (OKPO)



Prospek, Potensi Dan Arah Pengembangan (7)

Sasaran Produksi Pertanian Organik 2008-2015_dok.Rul
4.1. Prospek
 Prospek pengembangan pangan organik dapat dilihat dari berbagai hal sebagai berikut :
a.    Tumbuhnya permintaan terhadap produk pangan segar dan olahan organik.
Tumbuhnya permintaan terhadap pangan organik didorong oleh pertumbuhan kesadaran akan pentingnya makanan yang sehat dan aman. Selain itu tumbuhnya permintaan juga didorong oleh semakin meningkatnya tingkat konsumsi per kapita seperti pada buah dan sayuran
b.    Meningkatnya jumlah konsumen.
Jumlah konsumen meningkat secara signifikan karena semakin luasnya informasi mengenai pangan yang sehat.
c.     Meluasnya konsumen
Konsumen pangan organik semakin beragam. Konsumen berasal dari kelompok umur yang luas. Saat ini konsumen pangan organik berasal dari kelompok umur lansia, menengah dan anak-anak yang peduli akan pangan yang sehat. Selain itu konsumsi terhadap pangan organik juga didasarkan pada kecocokan pangan organik untuk menjaga kesehatan dan menyembuhkan penyakit, sehingga konsumennya berasal dari pasien yang menggunakan produk organik.
d.    Kualitas pangan lebih baik (kaya nutrisi) dan aman (bebas dampak negatif).
Atribut pangan organik yang lebih kaya nutrisi dan lebih aman dikonsumsi menjadi pendorong meningkatnya permintaan akan pangan organik.
e.    Dimanfaatkannya pangan organik sebagai produk untuk perawatan kesehatan, kecantikan dan penyembuhan penyakit. Produk pertanian organik saat ini digunakan pula sebagai produk untuk perawatan kesehatan, kecantikan dan pengobatan. Hal ini karena berdasarkan pengalaman dan hasil-hasil penelitian klinis yang membuktikan bahwa pangan organik yang sehat dapat digunakan untuk perawatan kesehatan, kecantikan dan pengobatan.

Permasalahan Pertanian Organik di Indonesia (6)

Pupuk Organik Mendukung Pertanian Organik_dok.Rul
Berdasarkan perkembangan pertanian organik periode tahun 2001 hingga 2006, ditemui beberapa permasalahan yang terkait dengan budidaya, sarana produksi, pengolahan hasil, pemasaran, sumber daya manusia, kelembagaan dan regulasi.

a. Budidaya
Permasalahan yang berkaitan dengan budidaya pertanian organik antara lain :
1. Luas lahan yang menerapkan sistem pertanian organik relatif kecil dan terletak di sekitar lahan budidaya non organik (konvensional).

Lahan yang digunakan untuk budidaya pertanian organik secara umum relatif kecil dibandingkan dengan lahan yang digunakan untuk budidaya pertanian non organik (konvensional). Hal ini terkait dengan kepemilikan lahan petani yang kecil sehingga ketika petani tersebut merubah sistem budidayanya menjadi pertanian organik,  luas lahan yang digarap atau diusahakan hanya seluas lahan yang dimilikinya.

Demikian halnya dengan lahan yang diusahakan oleh kelompok tani organik, luasannya masih kecil karena tidak semua anggota dalam kelompok tani tersebut merubah budidaya pertaniannya dari konvensional ke organik.

Kecilnya lahan yang diusahakan, juga terbentur pada lokasi lahan yang berada di sekitar lokasi atau di tengah lokasi budidaya pertanian konvensional. Posisi lokasi seperti ini menimbulkan beberapa kerawanan dalam menjalankan budidaya pertanian organik dan menjaga status organik lahan, air serta produk yang dihasilkan. Besar kemungkinkan, lahan yang diusahakan secara organik terkena pencemaran pestisida kimia, pupuk kimia dan cemaran bahan kimia lainnya dari pertanian konvensional melalui air dan udara.

KONDISI PERTANIAN ORGANIK (5)

Pisang Organik_dok.Rul
Perkembangan Pertanian Organik Di Indonesia

Secara historis, pertanian ramah lingkungan telah dipraktekkan semenjak beratus-ratus tahun yang lalu oleh nenek moyang kita. Sistem pertanian ini dilakukan tanpa menggunakan sarana produksi dari luar lahan dan hanya menggantungkan semuanya pada alam dengan cara mengembalikan semua sisa-sisa tanaman ke tanah sebagai pupuk oganik. Dasar filosofinya adalah bahwa:
a.    Semua benda dan mahluk yang ada di alam ini adalah baik dan berguna;
b.    Sesuatu yang tumbuh dan berkembang di alam ini mengikuti hukum alam; dan
c.   Segala makhluk yang ada di alam akan tumbuh dan berkembang dengan baik jika ada keseimbangan dalam alam itu sendiri.
Program operasional pengembangan pertanian organik di Indonesia telah dimulai sejak dicanangkannya visi “ Go Organic 2010” oleh Kementerian Pertanian (dh: Departemen Pertanian) pada tahun 2001. Tahapan proses pengembangan pertanian organik tersebut adalah seperti  pada gambar berikut:
Tahapan proses pengembangan pertanian organi_dok.Rul

Jumat, 01 April 2011

Makna Dan Manfaat Pertanian Organik (4)

Makna Dan Manfaat Pertanian Organik_dok.Rul
Makna pertanian organik 
Pertanian organik adalah sistem produksi pertanian yang holistik dan terpadu, yang mengoptimalkan kesehatan dan produktivitas agro-ekosistem secara alami, sehingga mampu menghasilkan pangan dan serat yang cukup, berkualitas, dan berkelanjutan. Dalam prakteknya, pertanian organik dilakukan dengan cara, antara lain:
a.    Menghindari penggunaan benih/bibit hasil rekayasa genetika (GMO = genetically modified organisms).
b.    Menghindari penggunaan pestisida kimia sintetis. Pengendalian gulma, hama dan penyakit dilakukan dengan cara mekanis, biologis, dan rotasi tanaman.
c.     Menghindari penggunaan zat pengatur tumbuh  (growth regulator) dan pupuk kimia sintetis. Kesuburan dan produktivitas tanah ditingkatkan dan dipelihara dengan menambahkan residu tanaman, pupuk kandang, dan batuan mineral alami, serta penanaman legum dan rotasi tanaman.
d.    Menghindari penggunaan hormon tumbuh dan bahan aditif sintetis dalam makanan ternak.

Ketahanan Pangan (3)

Pertanian Organik Terpadu Peternakan_dok.Rul
Ketahanan pangan  (food security) merupakan unsur penting dari ketahanan nasional di bidang ekonomi, yaitu menyangkut ketersediaan pangan  (availability), keterjangkauan  (accessibility), konsumsi  (consumption), keamanan  (security), dan keberlanjutan (sustainability) penyediaannya.
Dari sisi produksi, kebijakan pembangunan pertanian yang diterapkan selama ini lebih berorientasi pada pencapaian target produksi dalam jangka pendek dan jangka menengah yaitu  diantaranya melalui intensifikasi usahatani monokultur dengan masukan pupuk dan pestisida sintetis yang tinggi serta penggunaan bibit unggul yang mempunyai respon tinggi terhadap masukan air dan pupuk. 

Pertanian Organik dan Pemberdayaan Ekonomi Rakyat (2)

Presiden SBY dan Padi Organik_dok.Rul
Permintaan akan produk pertanian organik di seluruh dunia akhir-akhir ini telah meningkat luar biasa dan bahkan diramalkan akan semakin pesat di masa depan dengan pertumbuhan rata-rata sekitar  2 20 % per tahun. Sebagai gambaran, dalam tahun 2000  perdagangan produk pertanian organik dunia telah mencapai nilai US$ 17,5 milyar dan diperkirakan akan mencapai UD$ 100 milyar pada tahun 2010.
Fenomena ini dipicu oleh adanya trend gaya hidup sehat dengan slogan  ”Back to Nature” di masyarakat dunia yang mensyaratkan jaminan bahwa produk pertanian harus mempunyai atribut aman dikonsumsi  (food safety attributes), mempunyai kandungan nutrisi tinggi  (nutritional attributes) dan ramah lingkungan (eco-labelling attributes). Atribut ini ternyata melekat pada produk pertanian organik. 
Kedele Organik_dok.Rul
Adanya fenomena baru tersebut perlu ditangkap sebagai peluang yang perlu direbut bagi pembangunan pertanian di Indonesia khususnya menyangkut produk pangan tropis. Sebab, sebagai negara yang dianugerahi kekayaan keanekaragaman hayati tropika yang unik, kelimpahan sinar matahari, air dan tanah, serta budaya masyarakat yang menghormati alam, sesungguhnya Indonesia mempunyai modal dasar yang luar biasa besarnya yang diperlukan untuk mengembangkan pertanian organik. Karena itu, sejak awal tahun 2000-an ini Kementerian Pertanian (dh: Departemen Pertanian) telah berupaya mengembangkan Program Pertanian Organik dengan visi "GO ORGANIC 2010" sebagai salah satu pilihan langkah strategik untuk mempercepat terwujudnya pembangunan agribisnis yang berdaya saing, berkelanjutan dan berwawasan lingkungan (eco-agribisnis) guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya petani. Dengan program ini diharapkan bahwa Indonesia akan menjadi salah satu produsen pangan dan pertanian organik terbesar di dunia pada tahun 2010.

Pertanian Organik dan Lingkungan Hidup (1)

Aktifitas LM3 Model GMIM Nafiri Manado_dok.Rul
Pada abad ke 18, Robert Malthus pernah meramalkan bahwa pertumbuhan penyediaan pangan (pertanian) tidak bisa mengimbangi pertumbuhan permintaan akan pangan (jumlah penduduk). Dikatakan bahwa sumber pangan tumbuh menurut deret hitung sedangkan jumlah penduduk berkembang menurut deret ukur. Deret ukur lebih cepat dari deret hitung sampai pada akhirnya bertemu pada satu titik dimana pada saat itu pangan tidak akan cukup lagi untuk menopang kebutuhan hidup manusia. Namun, Malthus akhirnya gagal dalam hipotesanya karena ada faktor X yang maju kedepan, yakni inovasi teknologi. 
Dengan berkembangnya inovasi teknologi dan revolusi industri, maka penyediaan pangan naik lebih cepat daripada pertambahan manusia. Dengan landasan ini maka pada tahun 1960-an lahirlah Revolusi Hijau (Green Revolution) dalam bidang pertanian yang mampu mendemonstrasikan bahwa produksi pangan dapat ditingkatkan secara dramatis dengan menggunakan : (1) varietas unggul, terutama padi dan gandum (2) pupuk dan pestisida kimia sintetis; (3) sistem pertanaman monokultur; dan (4) ditanam pada lahan subur. Karena keunggulannya itu maka paket teknologi ini diadopsi secara cepat dan meluas ke seluruh dunia, baik di Negara maju maupun berkembang.

Road Map Pengembangan Pertanian Organik 2008–2015

 
Tahapan Proses Pengembangan Pertanian Organik Indonesia_dok.Rul
Pengantar RodMap Pertanian Organik Indonesia

Roadmap Pengembangan Pertanian Organik ini memuat latar belakang dikembangkannya pertanian organik di Indonesia, tujuan, sasaran dan strategi pengembangan, kebijakan serta program operasional pengembangan pertanian organik di Indonesia sampai dengan tahun 2015. 
Produk Pangan Organik_dok.Rul

Senin, 21 Maret 2011

Kajian Penerapan Model Sistem Usaha Pertanian Terpadu Berwawasan Lingkungan


by: Bambang Prayudi, Teguh Prasetyo, Subiharta, Yulianto, Tri Joko Paryono, Susanti
(Libang, Kementerian Pertanian)

Sistem usaha pertanian di Desa Tarubasan, Kecamatan Karanganom, Kabupaten Klaten dan sekitarnya didominasi oleh usaha pertanian lahan sawah. Menurut ketercukupan air irigasi sepanjang tahun di desa tersebut terdapat tiga jenis sawah yaitu sawah intensif (70,6 ha), semi intensif (40,8 ha), dan tadah hujan (5,4 ha). Pada sawah intensif semula berpola tanam Padi – Padi – Padi, pada sawah semi intensif berpola tanam Padi – Padi – Jagung / bero, dan pada sawah tadah hujan berpola tanam Tebu / Jagung. Rata-rata produktivitas padi sawah varietas IR64 di desa tersebut mencapai 5,0 t GKP/ha dan varietas Memberamo 6,0 t GKP/ha, sedangkan potensi hasil IR64 sebesar 6,0 t GKG/ha dan Memberamo sebesar 7,5 t GKG/ha; sementara itu rata-rata produktivitas jagung varietas Bisi2 baru mencapai 3,5 – 4,0 t/ha, sedangkan potensi hasilnya sebesar 8,0 t/ha. Dengan demikian masih terdapat peluang untuk meningkatkan produktivitas padi dan jagung di desa tersebut dengan pendekatan Pengelolaan Tanaman dan Sumberdaya Lahan Terpadu (PTT). Dalam beberapa tahun terakhir telah terjadi perubahan lingkungan strategis di sekitar Desa Tarubasan yang menyebabkan perubahan tata guna air yang signifikan. Perubahan yang dimaksud utamanya adalah penggunaan air untuk PDAM, berdirinya usaha air kemasan, dan pengembangan usaha perikanan yang telah menyebabkan pasokan air untuk usahatani sawah menjadi berkurang. Akibatnya lahan sawah intensif menjadi tidak tercukupi kebutuhan airnya sehingga tanaman padi pada musim kemarau menghadapi resiko kegagalan. Keterbatasan air semakin signifikan dengan adanya kebocoran di saluran-saluran irigasi, sementara embung dan sumur air dalam yang ada tidak berfungsi. Untuk mengantisipasi perubahan tersebut perlu melakukan penyesuaian pola tanam. Dengan mempertimbangkan ketersediaan air, maka pola tanam pada lahan sawah intensif disesuaikan menjadi Padi – Padi – Jagung – Kacang Hijau; pada lahan sawah semi intensif menjadi Padi – Jagung – Kacang Hijau; dan pada sawah tadah hujan menjadi Padi – Jagung – Kacang Hijau. Disamping itu beberapa petani dapat diarahkan untuk menjadi penangkar benih padi dan jagung komposit dibawah koordinasi BPSB TPH ataupun bekerja sama dengan pihak swasta dengan prinsip saling menguntungkan. Beberapa petani utamanya di lahan sawah semi intensif telah membuat sumur air dangkal (sumur pantek) untuk mengatasi kekurangan air pada musim kemarau. Cara ini dapat dikembangkan lebih lanjut terutama untuk sawah semi intensif dan sawah tadah hujan. Penyebab lain belum maksimalnya produktivitas padi dan jagung di desa tersebut adalah terjadinya pengurasan unsur hara karena limbah tanaman yang ada tidak dikembalikan ke lahan, melainkan diangkut keluar desa baik oleh penebas maupun pencari pakan ternak. Untuk menciptakan sistem usaha pertanian yang berkelanjutan, meningkatkan pendapatan petani dan berwawasan lingkungan, perlu dikembangkan sistem integrasi tanaman – ternak. Dalam sistem tersebut limbah tanaman dimanfaatkan untuk pakan ternak, sementara limbah kandang dapat dimanfaatkan untuk biogas dan bahan organik yang dihasilkan dikembalikan ke lahan untuk memperbaiki tingkat kesuburannya. Usaha ternak yang potensial adalah usaha ternak sapi potong/bibit. Peningkatan efisiensi usaha ternak (waktu dan biaya usaha) dapat dilakukan melalui introduksi manajemen kandang, pakan, dan bibit. Pengelolaan sistem usaha pertanian terpadu (tanaman – ternak) dapat dilakukan dengan merevitalisasi kelembagaan petani yang telah ada tetapi belum berjalan secara optimal, khususnya Gapoktan dengan tiga kelompok taninya . Kelompok tani yang sudah cukup maju (Nugroho I) perlu ditingkatkan perannya sebagai pendorong bagi kedua kelompok tani (Nugroho II dan III) serta lembaga petani lainnya. Revitalisasi kelembagaan petani juga perlu dilakukan untuk meningkatkan kinerja pengelolaan tata guna air. Darma Tirta yang sudah ada perlu ditingkatkan perannya dalam memelihara jaringan irigasi dan sistem panen maupun pembagian air. Peran serta petani dalam investasi jaringan irigasi dan pengelolaan embung perlu ditingkatkan lebih lanjut untuk meningkatkan pasokan air irigasi. Secara bertahap usaha off farm (pengolahan hasil dan penyediaan sarana produksi yang selama ini dipasok dari luar desa) serta akses pasar diharapkan dapat dikelola oleh Gapoktan dan lembaga petani lainnya. Dengan pendekatan PTT padi, produktivitas padi dapat meningkat dari rata-rata 5,65 t GKP/ha menjadi 7,05 t GKP/ha atau mengalami peningkatan rata-rata sebesar 1,4 t GKP/ha (25 %). Keuntungan yang diperoleh dengan sistem tebasan sebesar Rp 10.753.655,-/ha dengan Revenue/Cost (R/C) = 3,0 dan langsung menerima uang, sedangkan sistem kerjasama prosesing hasil dengan Rice Mill setempat keuntungan sebesar Rp 11.828.655,-/ha dengan R/C = 3,2 hanya saja proses penerimaan uang berkisar seminggu setelah panen. Sementara itu dengan pendekatan PTT jagung, produktivitas jagung meningkat dari rata-rata 4,0 t/ha menjadi 7,51 t/ha (87,7 %). Keuntungan yang diperoleh dengan sistem tebasan sebesar Rp 10.286.300,- dengan R/C = 3,4. Petani setempat tidak biasa menanam kacang hijau, dan dalam pelaksanaan PTT kacang hijau ada yang mengalami kekeringan, sementara yang berhasil panen produktivitasnya baru mencapai 0,8 t/ha. Hasil tersebut masih jauh dari potensi hasilnya sebesar 1,50 t/ha. Keuntungan yang diperoleh sebesar Rp 5.056.800,- dengan R/C = 1,5. Kegiatan ternak sapi masih dalam pembinaan bagi para peternak untuk dapat menguasai inovasi teknologi maupun kelembagaannya. Kata Kunci : Penerapan Model – SUP Terpadu – Lingkungan

--------------------------------------------------------

Info sekaitan Pertanian Terpadu dengan
Pengembangan Pola Pertanian Berbasis Bebas Sampah:
Silakan Kontak: 085215497331 (H.Asrul Hoesein) atau email ke Klik di SINI.
Konsultan LM3 Model GMIM Nafiri Manado, Sulawesi Utara
PT. Cipta Visi Sinar Kencana, Bandung.

Sabtu, 19 Maret 2011

Diagram Utama (F4) Pertanian Terpadu Bebas Sampah

Tani Terpadu_dok.Rul
   
F4 – sebagai hasil pertanian terpadu. Konsep terapan  pertanian  terpadu  bebas sampah akan  menghasilkan langkah pengamanan terhadap ketahanan dan ketersediaan pangan dan energy (terbarukan) secara regional, nasional, dan internasional terutama pada kawasan-kawasan remote area dari jajaran kepulauan “agraris” Indonesia.  Untuk jelasnya F4 diuraikan sbb: 

1.  F1‐FOOD  Pangan manusia (beras, gandum, jagung, kedelai, kacang kacangan , dll. produk peternakan (daging,susu,telor dll), produk budiaya ikan air tawar atau perikanan darat (lele, mujair,nila,gurameh, dll) dan hasil perkebunan (kopi, teh, gula,kelapa, dll).
2.  F2 – FEED  Pakan  ternak  termasuk  didalamnya  ternak  ruminansia (sapi, kambing,  kerbau, kelinci ), ternak  unggas  (ayam,entok,angsa, itik, burung  dara, dll) juga pakan  ikan  budidaya  air  tawar  terutama  ikan  herbivore  dan  omnivora  yang  tidak  perlu  protein  content  tinggi (mujair,tombro,bandeng,nila dan gurameh).
3.  F3‐ FUEL (Fuel/Energy). Akan dihasilkan energy terbarukan dalam berbagai bentuk mulai energy panas untuk  kebutuhan  domestic/masak  memasak,  energy  panas  untuk  industry  makanan  dikawasan  perdesaan juga untuk industry kecil, juga akan dihasilkan power energy misalnya pure plant oi  (PPO) atau dicampur menjadi bio diesel (pengembangan tanaman jarak,gamal,dll), ethanol dan gasohol, synthetic gas yang dihasilkan dari  pirolisis  gasifikasi  maupun  enzimasi  gasifikasi dan juga  pemakaian  tenaga  langsung lembu/sapi  untuk  penarik  pedati,  kerbau  untuk  mengolah  lahan  pertanian  sebenarnya  adalah  produk  berbentuk  Fuel/Energy.
4.  F4‐FERTILIZER Akan  dihasilkan  juga  bio  fertilizer  yang  semua  juga  memahami  bahwa  bio/organic  fertilizer bukan hanya sebagai penyubur tetapi juga sebagai perawat tanah (Soil  Conditioner) guna mengembalikan unsur hara tanah yang hampir hilang akibat pemakaian pupuk kimia sejak revolusi hijau (zaman orde baru) sampai saat ini. Pupuk organik (organic fertilizer) yang  dari  sisi  keekonomisan  maupun  karakter  hasil  produknya  tidak  kalah  dengan  pupuk  buatan  (anorganic fertilizer)  bahkan  pada  kondisi  tertentu  akan  dihasilkan  bio  pestisida  (dari  asap  cair  yang  dihasilkan  pada  proses  pirolisis  gasifikasi)  yang  dapat  dimanfaatkan sebagai pengawet makanan yang tidak berbahaya (bio preservative) 

Dari penjelasan F4 diatas, maka tersimpulkan betapa besar kasih sayang Maha Pencipta  terhadap makhluknya sebagai kholifah dibumi,tidak satupun ciptaan-Nya yang sia sia, saling terkait satu dengan yang lainnya, Subahanallah. Sebagaimana dikatakan oleh Allah Swt bahwa pergunakan akalmu, maka akan kuberikan berkah kepadamu, serta memberikan rezeki tanpa kamu duga.

Aplikasi dan Pendukung Pertanian Terpadu Bebas Sampah Pembuatan Kompos dari Sampah Rumah Tangga

dok_AsrulHoesein_GIH Foundation_Posko Hijau
Salah satu usaha yang dapat diandalkan dalam upaya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat  dan kestabilan lingkungan berbasis  pertanian  adalah dengan menerapkan  Pertanian Terpadu Bebas Sampah (Integrated Farming  Zero Waste) pada  suatu wilayah, sebagaimana yang akan dilaksanakan oleh LM3PPAS menuju LM3 Model.

Program pertanian terpadu  tanpa limbah  yang ramah lingkungan  ini  mampu menjawab tantangan keterbatasan energi dan iklim yang  ada dengan menghasilkan proses serta produk pertanian yang bersandar pada  konsep  agroekologi  yang  mampu meningkatkan diversifikasi spesies dan genetik dari agroekositem pada tempat dan waktu pada level lahan termasuk perpindahan organisme.Selain itu, dengan diterapkannya  Integrated Farming Zero Waste ini masyarakat mampu menghasilkan produk  bernilai  tambah dengan memanfaatkan bahan-bahan  by product  (bahan samping)  sebagai bahan dasar produk pangan alternatif  seperti opak hati pisang yang kaya serat dan karbohidrat serta pupuk kompos sebagai produk penunjang kegiatan pertanian masyarakat. Oleh karena itu, penerapan  Integrated Farming Zero Waste model  ini mampu membangun suatu kemandirian masyarakat secara berkelanjutan.

Pertanian Terpadu Bebas Sampah, LM3PPAS Musi Banyuasin, Sumatera Selatan Menuju LM3 Model


Lokasi LM3PPAS menuju Pertanian Terpadu_dok.Rul
Pertanian Terpadu Bebas Sampah by LM3 Ponpes Asysyifa
(Muba Integrated Farming Zero Waste)
By: H.Asrul Hoesein_GIH Foundation_LM3PPAS Muba
Pertanian Terpadu Merupakan Solusi Lingkungan Hijau, Gagasan strategi yang mampu diterapkan sebagai solusi untuk menjawab tantangan kelestarian lingkungan Indonesia dengan memasyarakatkan Model Pertanian Terpadu Tanpa Limbah (Integrated Farming Zero Waste) pada para petani. Penerapkan Model Pertanian Terpadu Bebas Limbah (Integrated Farming Zero Waste) dengan mengacu pada agroekologi.

Pada prinsipnya agroekologi adalah upaya ekologis untuk mempertemukan kondisi ekologis sumberdaya dengan kondisi ekologis manusia guna mendapatkan manfaat optimal dalam jangka panjang. Dalam praktek di lapangan konsep agroekologi adalah upaya mencari bentuk pengelolaan sumberdaya lahan permanen, baik dalam satu komoditi maupun kombinasi antara komoditi pertanian dan kehutanan dan atau peternakan/ perikanan secara simultan atau secara bergantian pada unit lahan yang sama dan bertujuan untuk mendapatkan produktivitas optimal, lestari dan serbaguna, dan memperbaiki kondisi lahan atau lingkungan. Jika sistem ini berhasil dimasyarakatkan, diharapkan para petani bersedia kembali bertani dengan cara alamiah (go organik). Di sisi lain, dengan penerapan sistem ini kelestarian lahan pertanian dan kawasan di sekitarnya akan lebih terpelihara.

Dalam mengaplikasi (demplot) program Model Pertanian Terpadu Bebas Limbah dalam skala mikro oleh LM3 Ponpes Asy-Syifa (LM3PPAS). Pada demplot penerapan sistem ini adalah Lokasi Pondok Pesantren sebagai induk dari LM3PPAS, yang terletak di Muarenim Km.10 Peyelibok, Kelurahan Soak Baru, Kecamatan Sekayu Kabupaten Musi Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan. Lokasi ini LM3PPAS seluas +60 Ha.(baru sekitar 5 Ha termanfaatkan, antara lain peternakan/penggemukan sapi, peternakan ayam, tanaman sayur-hortikultura), namun sangat memiliki potensi pertanian dan perkebunan (hortikultura) yang memiliki prospek untuk dikembangkan sebagai salah satu usaha untuk membangun dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan (sustainable) melalui pembangunan pertanian terpadu bebas sampah atau bebas limbah.
Perumusan Masalah

Pengembangan usaha pertanian berorientasi pelestarian lingkungan ( go green) merupakan wacana utama yang sedang berkembang dalam masyarakat dunia (stop global warming) untuk mengantisipasi perubahan iklim yang sudah menjadi kenyataan (fakta) akhir-akhir ini. Semakin tingginya tingkat kesadaran masyarakat akan dampak negatif dari kerusakan lingkungan yang disebabkan karena berkembang dengan pesatnya sistem pertanian konvensional selama ini, mendorong pemerintah di berbagai negara untuk mulai beralih kepada sistem pertanian organik ini. Salah satu negara,
misalnya Jepang telah menerapkan model pertanian terpadu antara pertanian padi dan bebek Aigamo.

Dalam teknik pertanian terpadu padi dan bebek ini, sawah padi ditutup dengan pagar beraliran listrik, jaring dan sebagainya. Hal ini bertujuan untuk menciptakan lingkungan dimana bebek Aigamo dan padi dapat menjalin simbiose yang saling menguntungkan. Pertanian padi dan bebek telah terpadu dalam sawah padi secara organis. Inilah yang mengindikasikan adanya penerapan agroekologi dalam sistem pertanian padi dan bebek di Jepang tersebut. (Sumber: Farming Japan Vol.43-3, 2009).

Contoh di atas menggambarkan bahwa dalam praktek di lapangan konsep agroekologi ini berupaya untuk mencari bentuk pengelolaan sumberdaya lahan permanen, baik dalam satu komoditi maupun kombinasi antara komoditi pertanian dan kehutanan dan atau peternakan/perikanan secara simultan atau secara bergantian pada unit lahan yang sama dan bertujuan untuk mendapatkan produktivitas optimal, lestari dan serbaguna, dan memperbaiki kondisi lahan atau lingkungan.Oleh karena itu, model Pertanian Terpadu Bebas Sampah(Integrated Farming Zero Waste) ini merupakan salah satu alternatif yang dapat diaplikasikan secara berkelanjutan.

Sistem ini mampu diterapkan dan dikembangkan untuk membangkitkan gairah kemandirian ekonomi masyarakat (khususnya masyarakat perdesaan) di beberapa daerah seperti Sumatera Selatan khususnya, termasuk Sulawesi, Banten, Bali bahkan hingga Papua. Integrated Farming Zero Waste yang berakar dari konsep agroekologi ini semakin bermanfaat untuk mendukung penerapan Integrated Farming Zero Waste dan keseimbangan tatanan lingkungan yang ada.

Dalam pengembangan Integrated Farming Zero Waste (Pertanian Terpadu Bebas Sampah) ini akan di aplikasi dalam beberapa hal, yaitu :

1. Bagaimana kondisi demografi dan potensi Kelurahan Soak Baru, Kecamatan Sekayu Kabupaten Musi Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan.
2. Bagaimana tahapan penerapan dan pengembangan Model Pertanian Terpadu Bebas Sampah pada demplot di Lokasi LM3PPAS tersebut di Kelurahan Soak Baru, Kecamatan Sekayu Kabupaten Musi Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan.
3. Bagaimana usaha pemberdayaan potensi masyarakat dalam mendukung penerapan serta pengembangan Integrated Farming Zero Waste di Kelurahan Soak Baru, Kecamatan Sekayu Kabupaten Musi Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan.

Tujuan Program Pertanian Terpadu Bebas Sampah :

Program Integrated Farming Zero Waste (Pertanian Terpadu Bebas Sampah) LM3PPAS ini memiliki beberapa tujuan, antara lain:

1. Menguraikan kondisi demografi dan potensi lokal Kelurahan Soak Baru, Kecamatan Sekayu Kabupaten Musi Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan.(baca potensi Muba klik di SINI)
2. Menjelaskan tahapan penerapan dan pengembangan Integrated Farming Zero Waste (Pertanian Terpadu Bebas Sampah) pada demplot, yaitu Kelurahan Soak Baru, Kecamatan Sekayu Kabupaten Musi Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan.
3. Memaparkan usaha-usaha pemberdayaan kepada masyarakat komunitas tani (khususnya anggota LM3PPAS, Kelompok Tani, KTNA, P4S) untuk mendukung penerapan serta pengembangan Integrated Farming Zero Waste (Pertanian Terpadu Bebas Sampah) Kelurahan Soak Baru, Kecamatan Sekayu Kabupaten Musi Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan.
Manfaat Pertanian Terpadu Bebas Sampah
Manfaat yang diharapakan mampu diberikan oleh LM3PPAS adalah:

1. Diperolehnya informasi mengenai kondisi demografi dan potensi lokal dan permasalahan yang dihadapi masyarakat Kabupaten Musi Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan khususnya dan masyarakat Indonesia (komunitas tani) pada umumnya.
2. Diterapkannya Pertanian Terpadu Bebas Sampah (Integrated Farming Zero Waste) yang merupakan satu implementasi (aplikasi)konsep agroekologi sebagai strategi peningkatan kemandirian masyarakat dan kestabilan sistem lingkungan (bersih, hijau dan mandiri).
3. Memfasilitasi peran serta LM3 sebagai tempat belajar agribisnis, melalui pemberdayaan potensi masyarakat dalam mendukung penerapan serta pengembangan Pertanian Terpadu Bebas Sampah (Integrated Farming Zero Waste) di Kelurahan Soak Baru, Kecamatan Sekayu Kabupaten Musi Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan.

Penerapan program ini, sangat diharapkan dapat menjadi model bagi komunitas LM3 dan Kelompok Tani khususnya di Provinsi Sumatera Selatan dan LM3 di seluruh Indonesia, agar bisa shar dan bargaining teknologi dan pemsaran (pilot project) dalam pengembangan Pertanian Terpadu Bebas Sampah (Integrated Farming Zero Waste) ini.

Manfaat secara umum, bahwa kami LM3PPAS bermaksud mengaplikasi konsep dan program pemerintah secara total (bukan parsial) dalam menghijaukan Indonesia (Indonesi Go Green) serta sebuah upaya makro untuk mengantisipasi perubahan iklim, yang sudah bukan lagi menjadi isu, tapi lebih merupakan fakta dewasa ini.

Mari Stop Global Warming. Ingat!!! Indonesia adalah paru-paru dunia. Benar memang Indonesia bisa hidup tanpa negara-negara besar seperti AS, Jerman, China dll, namun mereka itu tidak akan hidup dengan stabil tanpa Indonesia. Kondisi inilah seharusnya menjadikan kita (Indonesia) lebih memacu diri menjadi penyejuk dunia (rahmatanlilalamin) buat seluruh masyarakat dunia tanpa kecuali. Ini kesempatan besar buat kita, buat Indonesia.
------------------------------------------------------------------------------------------
Kabupaten Musi Banyuasin adalah salah satu kabupaten di Provinsi Sumatera Selatan dengan ibu kota Sekayu. Kabupaten ini memiliki luas wilayah ±25.664 km² yang terbentang pada lokasi 1,3° - 4° LS, 103° - 105° BT. Bupati Kabupaten Musi Banyuasin adalah H. Pahri Azhari yang dilantik pada tanggal 29 Juli 2008 menggantikan Alex Noerdin.
------------------------------------------------------------------------------------------
Pembangunan Infrastruktur Pertanian Terpadu (Pertanian Organik):
Untuk informasi pengelolaan (rancang bangun) Pertanian Terpadu Bebas Sampah (Integrated Farming Zero Waste) serta Pengelolaan Sampah Kota atau Limbah Pertanian (Sisa Panen) menjadi Pupuk Organik (Pupuk Kompos Padat dan Pupuk Kompos Cair) dengan Teknologi Komposter BioPhoskko (TTG), silakan hubungi kami:

Jaringan Posko Hijau ^ GIH Foundation
KencanaOnline Klik di SINI atau Klik di Sini atau silakan email ke Klik di SINI
Atau hubungi ke: 081278427909 (H.Cholik H.Senen, ST, Ketua LM3 Ponpes Asysyifa), 085215497331 (H.Asrul Hoesein) atau 0815700935 (Ir. Sonson Garsoni) > PT. Cipta Visi Sinar Kencana, Bandung. Atau shar ke GIH Foundation atau AsrulHoeseinBrother atau hubungi jejaring Posko Hijau ^ Gerakan Indonesia Hijau Foundation (alamat klik di Sini) di seluruh Indonesia.

Membangun Pertanian Terpadu Perlu Integrasi Stakeholder



Pertanian terpadu bebas sampah atau integrated farming zero waste adalah usaha pertanian dengan pengelolaan bersinambungan (sustainable), sehingga tidak dikenal limbah (zero waste) sebagai produk sampingan, semua bagian hasil kegiatan pertanian diasumsikan sebagai produk ekonomis dan semua kegiatan adalah profit center, hasil samping dari salah satu sub bidang usaha menjadi bahan baku atau bahan pembantu sub bidang lainnya yang masih terkait,ilustrasi yang sederhana adalah pada usaha budidaya jagung, produk bukan hanya jagung pipilan kering sedangkan biaya pembuangan batangnya dilahan dan dibakar menjadi beban/cost, tetapi dalam pertanian terpadu bebas limbah/sampah meskipun ada biaya pengumpulan batang jagung dari lahan tetapi dapat diproses menjadi silage (pakan ternak ruminansia) atau disimpan sebagai pakan kering, sehingga untuk jumlah yang memenuhi criteria ekonomis justru akan membuka cluster ekonomis baru. Begitu juga hampir pada semua kegiatan usaha bidang pertanian, perkebunan dan peternakan apabila di integrasikan akan membuka peluang peluang usaha baru yang sangat mudah di implementasikan.

Potensi Pengembangan:

Potensi pengembangan model Pertanian Terpadu Bebas Sampah (Integrated Farming Zero Waste) untuk menciptakan kesejahteraan dan pengembalian kestabilan lingkungan masyarakat yang berkelanjutan dengan mengoptimalkan pemanfaatan potensi lokal (kearifan lokal)perlu mendapat perhatian khusus dari semua unsur terkait (keberhasilannya ditentukan dengan tidak adanya ego sektoral, khususnya dikalangan pemerintah), dan sebaiknya diterapkan pada berbagai daerah kabupaten/kota di Indonesia (terlebih pada daerah tertinggal dan daerah yang belum mampu mengoptimalkan manfaat potensi lokal yang ada) di Indonesia. (catatan penulis: Menambah wawasan tentang kerjasama antardaerah dan daerah tertinggal silakan ikuti di LGO Lekad, Jakarta klik di SINI).

Kerja sama antara daerah/pemerintah, perguruan tinggi, LSM/NGO dalam dan luar negeri, masyarakat dan komunitas industri pertanian termasuk organisasi usaha (Kadin Indonesia, HKTI, Asosiasi Pedagang Pasar Tradisional dan Pasar Modern, dll) juga diperlukan dalam pelaksanaan inisiasi, penyuluhan, penerapan dan pengevaluasian Integrated Farming Zero Waste Model ini. Integrasi pemerintah, perguruan tinggi, NGO, perusahaan swasta dan BUMN (pemanfaatan dana CSR) serta masyarakat juga diperlukan untuk mengembangkan potensi lokal dengan pengolahan produk samping (by product) pertanian agar mampu menghasilkan produk pangan maupun produk pertanian lain yang berkualitas, termasuk dalam inisiasi pentingnya mengkonsumsi produk pertanian organik demi kesehatan masyarakat dan lingkungan.

Pembangunan Infrastruktur Pertanian Terpadu (Pertanian Organik):

Untuk informasi pengelolaan (rancang bangun) Pertanian Terpadu Bebas Sampah (Integrated Farming Zero Waste) serta Pengelolaan Sampah Kota atau Limbah Pertanian (Sisa Panen) menjadi Pupuk Organik (Pupuk Kompos Padat dan Pupuk Kompos Cair) dengan Teknologi Komposter BioPhoskko (TTG), silakan hubungi kami>
Jaringan Posko Hijau ^ GIH Foundation:

Posko Hijau_KencanaOnline Klik di SINI atau Klik di Sini atau silakan email ke Klik di SINI
Atau hubungi ke: 085215497331 (H.Asrul Hoesein), 0815700935 (Ir. Sonson Garsoni) > PT. Cipta Visi Sinar Kencana, Bandung atau hubungi jejaring Posko Hijau_PT.CVSK ^ GIH Foundation (alamat klik di Sini) di seluruh Indonesia. Info tentang Kerjasama Antardaerah silakan Klik situs NGO Lekad di SINI atau hub: 085215497331 (H.Asrul Hoesein, Tim Manajemen Lekad).

LM3 MODEL GMIM NAFIRI MANADO Headline Animator